Home » » Sa’ad bin Abu Waqos

Sa’ad bin Abu Waqos

Dilahirkan di Mekkah 23 tahun sebelum terjadi peristiwa Hijrah. Peristiwa Hijrah merupakan permulaan penanggalan bagi umat Islam sebagai bagian dari sejarah kehadiran cahaya Islam di buka bumi. Nama lengkapnya Sa’ad bin Malik bin Ahib bin Abdul Manaf az-Zuhri. Biasa dipanggil Abu Ishak. Gelarnya ‘Faaris al-Islam (Kesatria Islam). Beliau adalam paman Rasulullah.

Mengenai pribadinya, tubuhnya tidak terlalu tinggi tapi perutnya berisi. Lututnya panjang dan jari-jarinya tebal. Rambut kepalanya lebat.

Pada umur 17 tahun, beliau menyatakan diri masuk Islam. Boleh dikatakan beliau adalah diantara orang-orang yang masuk Islam pada awal turunnya Islam. Ibunya tidak rela dirinya masuk Islam. Setelah tahu bahwa anaknya masuk Islam, ibunya meninggalkan makan supaya kembali kepada kekufuran (tidak masuk Islam). Beliau menjawab; “Wahai ibuku, Demi Allah, kamu ajarkan aku. Sekiranya engkau mempunyai seratus nyawa, kemudian nyawa itu keluar satu demi satu,saya tidak akan meninggalkan agama baruku (Islam). Sekiranga engkau inginkan makanan itu, makanlah. Jika pun inginkan, jangan makanlah. Setelah itu ibunya bersumpah tidak akan bicara dengannya hingga keluar dari ajaran Islam. Begitu juga tidak akan makan dan minum. Ibunya berkata; “Kamu kan tahu bahwa Allah telah menyuruh berbuat baik kepada kedua orangtua. Saya ini ibumu dan saya yang suruh kamu untuk keluar dari ajaran Islam. Setelah itu ibunya berpuasa selama tiga hingga tubuhnya terasa lemah dan lesu. Salah seorang anaknya yang lain, bernama Imarah, mencoba memberi minum. Hingga kemudian mencoba mendoakan Saad dengan sesuatu yang buruk. Di saat itulah turunkah firman Allah; “Dan kami perintahkan manusia untuk berbuat baik kepada kedua orangtuanya. Sekiranya mereka berusaha mengajak kamu untuk berbuat syirik kepada-Ku tanpa kamu mengetahui kebenerannya, maka jangan sekali-kali kamu turuti perintahnya itu. Kepada-Ku lah kalian kembalikan perkara itu dan akan aku berikan kabar gembira apa yang kamu perbuat”(QS.Al-Ankabut;8)(HR.Bukhori).

Beliau mendengar kabar bahwa bangsa Persia menyerang kaum Muslimin dan gugurnya 4000 pejuang muslim di medan perang al-Jassar sebagai syuhada, begitu juga penduduk Iraq melanggar perjanjian dan hampir saja Umar bin Khottob (kholifah kaum muslim) keluar menemui musuhnya tapi kaum muslimin tidak setuju dengan tindakan Umar itu, beliau mengusulkan kepada Abdurrahman bin ‘Auf agar dirinya menemui musuhnya itu. Padahal waktu itu dirinya sedang sakit. Tapi beliau memohon pertolongan kepada Allah. Doanya dikabulkan. Beliau berhasil mengalahkan bangsa Persia di kawasan Qodasiah. Tentara musuh dapat dihalau hingga ke daerah Nahawan dan Madain.

Pada waktu terjadi pertempuran di Madain, beliau menyebrang sungai Efrat bersama tentaranya. Ketika tentara itu mulai menurunkan kuda-kudanya ke air, beliau perintahkan mereka untuk berdoa; “Kami meminta perlindungan kepada Allah dan bertawakkal pada-Nya. Hanya Allah lah tempat kami berlindung dan memohon. Tidak ada kekuatan apapun yang dapat berbuat melainkan kekuatan Allah yang maha Besar.” Selesai berdo’a, mereka berjalan diatas air itu seperti berjalan diatas tanah.

Ada seorang laki-laki mencaci maki dan menghina Ali r.a., Tholhah dan Zubair. Dilihatnya laki-laki tersebut dan meminta supaya berhenti menghina mereka. Laki-laki tersebut tidak mau. Dipanggilnya laki-laki itu. Tiba-tiba seekor onta keluar. Kemudian beliau bunuh laki-laki itu.

Dalam sejarah penaklukan Islam, beliau adalah orang pertama kali memanah di jalan Allah.

Suatu saat Rasulullah berdoa untuknya; “Ya Allah, Kabulkan doa Sa’ad jika dia berdoa.”(HR.Tirmidhi).

Beliau diantara enam calon pada masa pemerintahan Umar bin Khottob untuk mengurusi persoalan kaum muslimin setelah kematiannya. Ketika terjadi perselisihan antara Ali dan Muawwiyah, beliau enggan ikut campur dan menolak untuk ikut terlibat di dalamnya. Bahkan dirinya enggan mendengar berita mengenai perselihan itu. Beliau diantara sepuluh orang yang dikabarkan akan masuk surga.

Selama hidupnya, beliau meriwayatkan kurang lebih 271 hadits. Diantara hadits riwayatnya itu; “suatu hari Rasulullah menjengukku pada tahun dilakukan haji wada’. Waktu itu aku sakit parah dan hampir meninggal. Terus aku bertanya kepada Rasulullah; “Wahai Rasul, seperti yang kamu tahu bahwa sakitku betul-betul parah. Saya ini punya banyak harta dan tidak ada anakku yang mewarisinya kecuali anak perempuanku. Apakah saya harus sedekahkan dua pertiga hartaku?” Rasul menjawab; “Tidak.” Saya bertanya: “Saya sedekahkan setengahnya?” Rasul menjawab; “Tidak.” Saya bertanya; “Sepertiganya?” Rasul menjawab; “Seperti wahai Sa’ad. Sepertiga itu banyak. Seseunguhnya kamu tinggalkan keturunanmu menjadi orang kaya lebih baik daripada menjadi miskin sehingga harus meminta-minta kepada manusia lain. Kamu bukanlah orang munafik, tapi orang yang membelanjakan hartanya di jalan Allah sehingga Allah berikan balasan. Seperti kamu memberikan sesuap nasi untuk istri itu kelak akan diberi balasan.”(HR.Bukhori).

Di akhir hayatnya, beliau kehilangan matanya. Beliau meninggal di istananya di daerah al-Aqiq, lima mil dari kota Madinah. Beliau adalah orang muhajirin yang paling terakhir wafat. Beliau wafat pada tahun 55 Hijriah, berumur 80 tahun.

Share this article :

No comments:

Popular Posts

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Selamat Datang - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger