Purnama di Gerbang Andalusia
Penulis:Haikal Hira Habibillah

“Prajurit Roberto dan Serinho datang menghadap!”
Ruang utama Istana Andalusia di Toledo tampak lengang. Singgasana Raja Roderick terlihat masih kosong. Dua orang tentara Goth yang baru tiba itu mengambil tempat persis di depannya. Menunggu sang raja tiba. Mereka berdua adalah pasukan khusus dari tentara kerajaan. Tugasnya mengamati keadaan terakhir dari gerakan musuh di garis depan. Lalu menginformasikan setiap perkembangan baru yang terjadi. Dan sore itu, mereka baru saja tiba dari pantai di semenanjung Andalusia. Sebuah berita penting sedang mereka bawa. Tentang kedatangan orang-orang dari Afrika utara. Juga perang besar yang nampaknya bakal segera terjadi. Termasuk siasat perang yang gila dari sebuah angkatan perang.
Prajurit Roberto mengamati tiang-tiang penyangga yang mengitari ruang utama istana. Dinding-dinding yang terlihat kokoh berhias ukiran sangat menakjubkan. Sebuah karya seni dari para arsitek Gothic yang tak bisa ia saksikan di luar ruangan ini. Dan itu mengingatkannya lagi pada bukit karang saat dimana ia pertama kali melihat lelaki menakjubkan itu. Berdiri sambil menyampaikan kata-kata pembakar semangat pasukannya. Kemarin siang di pantai berbatu terjal. Bersamaan dengan ribuan orang yang turun dari kapal-kapal yang bersandar di sepanjang pantai Andalusia.

“Lihat lelaki yang berdiri di atas bukit itu!” tunjuknya pada Serinho.
“Ya... ya! Aku tahu!”
“Diakah orang Barbar itu? Bekas budak yang dimerdekakan itu?”
“Yang itu … aku tak tahu!”
“Ya, bekas majikannya adalah rajanya sekarang ini.”
“Mousa ibn Nusher?”

Roberto mengangguk pelan. Sesuatu membuatnya tercenung. Ikatan emosional apa yang membuat seorang majikan bisa mengangkat seorang bekas budaknya menjadi panglima perang? Bahkan tali keturunan pun belum tentu bisa menjelaskan. Dan ia yakin itu disebabkan oleh sebuah hubungan yang lebih dari sekedar majikan dan budak. Pasti ada penjelasannya! Roberto memandangi dirinya sendiri. Seorang lelaki yang hampir seperempat abad hidup dan mengabdi dibawah kaki dinasti Gothic. Sebagai prajurit rendahan, ia dan kelompoknya termasuk dalam kasta terendah dalam masyarakat Andalusia. Mengabdi dan mati adalah tugas pertama. Keadilan dan kesejahteraan cuma nomor sekian. Tapi ia masih beruntung bisa makan tiga kali dalam sehari.

Serinho menepuk bahunya.
“Apa yang ia lakukan ?” tunjuknya pada sang panglima.
“Dia sedang berbicara dengan pasukannya”
“Ya, mereka tampak begitu patuh dan khusuk!”
“Hei, lihat… apa yang akan mereka lakukan ?”
“Entah.”

Tiba-tiba, teriakan-teriakan aneh menggemadi atas langit semenanjung Andalusia. Pedang dan panah yang berkilauan teracung ke udara. Kerumunan pasukan yang tampak serba putih itu menengadah ke langit yang bersih. Begitu menggetarkan. Dan Roberto tahu, itu adalah cara mereka mengagungkan nama Tuhannya. Seketika pula, asap hitam sudah mengepul dari arah pesisir.

Kedua prajurit Andalusia itu hanya bisa tercengang. Ya, kapal-kapal besar itu! Panah-panah api berterbangan ke arah kapal perang itu. Langit mendadak gelap. Api menjalari tiang dan layar-layar dengan cepatnya. Buritan terus berderak. Bersama angin pantai Mediterania yang bertiup kencang, perlahan-lahan, lidah laut mulai menelan puing kapal yang terus membara. Secepat itu pula, kapal-kapal itu kini musnah. Kapal yang telah membawa pasukan dari negeri mereka Tanja, di Afrika Utara menuju daratan Andalusia itu, telah tenggelam ke dasar selat Andalusia. Bukan oleh musuh! Tapi dibumihanguskan mereka sendiri atas perintah sang panglima.

Kini,tujuh ribu pasukan membelakangi selat Afrika-Andalusia. Dan jauh di depan mereka, duapuluh lima ribu pasukan musuh siap menghadang! Ah, betapa hidup memang hanya sebuah pilihan. Betapa tipis batas antara mati sia-sia dan syahid di jalan-Nya!
Benarkah ini bukan dongeng semata?
***
Dalam derap langkah kuda yang membelah tanah Toledo yang berdebu, angin tenggara ikut mengabarkan berita yang tak disangka-sangka itu. Tindakan pasukan muslim itu tadi benar-benar tak terbayangkan. Betapa besar keberanian yang mereka punya. Kekuatan apa yang ada dalam genggaman mereka? Semangat macam apa yang bisa menandingi itu semua. Hingga mereka memilih mati jauh dari negeri asalnya. Dengan membuang sebuah pilihan untuk selamat dengan berlayar kembali ke tanah asal. Bahkan, sejuta tahta Andalusia takkan bisa menyurutkan langkah mereka menapak menuju kegemilangan.
Roberto dan Serinho masih saling berbisik.

“Ini akan mudah kan?”
“Apa maksudmu ?”
“Cuma tujuh ribu pasukan. Kita jelas punya empat sampai lima kali lipat!”
“Entahlah, Roberto… tapi bila ini terjadi… jelas sekali, ini bukan perang. Ini akan menjadi ladang pembantaian!”

“Begitu menurutmu?”
“Kau melihat ada kemungkinan lain?”
“Aku hanya khawatir!” desis Roberto gelisah.

“Shh,…” kawan di sampingnya memasang posisi tegak. Roberto serentak mengikutinya. Dari pintu megah bergaya Gothic kuno, seorang lelaki berjubah emas muncul. Wajahnya keras dan dingin. Hanya suara langkah yang menggema di ruang utama istana Andalusia siang itu. Seluruh pengawal menundukkan kepala. Kedua orang prajurit khusus pun bersimpuh.

“Yang mulia Roderick!” salam mereka serempak. Sang raja mengangguk. Seraya melambaikan sebelah tangan. Senyumnya yang hambar menghampar. Tak sabar ia bertanya pada sang mata-mata.

“Kabar baik apa yang kau bawa?”
“Mereka telah tiba, Tuanku.”
“Ah! Sudah kuduga. Setelah Torife jatuh, mereka pikir kita akan melemah! Berapa kekuatan musuh kali ini?”

“Tujuh ribu, Tuanku!” Roberto menjawab pendek. Dan jawaban dari prajuritnya itu bagai alunan nada yang menyenangkan bagi raja yang cemas itu. Wajahnya mendongak cepat.

“Tujuh ribu katamu? Cuma tujuh ribu?”
“Tepat sekali. Tujuh ribu pasukan dengan armada kapal yang telah terbakar,” kali ini Serinho yang menambahkan. Jelas sekali, ia terlihat bangga mengabarkan berita itu.

“Terbakar?” suasana menjadi hening sejenak. Sebuah berita gembira yang sekaligus membingungkan. Dan itu makin membuat sang raja tak mengerti. Dia berpikir sejenak. Lalu tiba-tiba sang raja tergelak. Suara tawanya membahana di penjuru ruang yang mewah itu. Bahkan, mahkota yang dikenakannya nyaris jatuh, saat ia menghempaskan tubuh besarnya ke atas singgasana.
“Hei, bagus sekali! pasukan siapa yang sudah bekerja sangat baik itu ”

“Maaf, Tuanku… tapi bukan pasukan Visigoth yang melakukannya!”
“Bukan… pasukan… kita …?” ulangnya tak paham. Kedua prajurit mengangguk cepat. Lalu Roberto menambahkan dengan nada sangat tegas.

“Mereka melakukannya sendiri tuanku.”
Tawa Roderick terhenti. Tubuh besarnya bangkit lalu turun menuju prajuritnya.
“Jangan main-main. Apa maksudmu ?”
“Mereka sendiri yang membakar armada laut itu!”
***
Di luar istana, orang-orang mulai ramai berkasak-kusuk. Kabar tentang pendaratan pasukan dari kerajaan tetangga makin menyebar. Perang takkan terelakkan. Dan musuh mereka adalah orang-orang dari utara Afrika. Sebuah negeri yang mereka dengar selalu dalam suasana damai dan sejahtera. Di bawah pimpinan seorang raja yang tak pernah mengabaikan hak-hak rakyatnya. Dimana kebutuhan hidup, keadilan serta keamanan dijaga dengan baik oleh negara. Dan kebebasan melaksanakan hak bagi rakyat pun dijamin sepenuhnya. Sangat berbeda dengan keadaan mereka disini. Di Andalusia ini, raja mereka hanya bisa memeras rakyatnya. Dinasti Gothic dari Jerman yang telah memerintah tanah mereka hampir dua abad itu, sama sekali tak memberikan apa-apa bagi rakyatnya. Zaman kegelapan sedang memayungi masyarakat mereka. Gelap gulita di mana-mana. Bahkan, masyarakat kini telah terbagi dalam tingkatan-tingkatan sosial. Yang membedakan hak serta kewajiban mereka masing-masing. Mereka yang tersisih itu hanya bisa mengeluh sambil berkasak-kusuk. Berkumpul dalam kelompok-kelompok kecil di sudut-sudut kota. Seperti siang itu pula. Di sebuah pasar kumuh di jantung Toledo, ketika para lelaki saling berbisik takut-takut.
“Benarkah perang akan terjadi?”

“Lebih baik perang dari pada mati perlahan seperti sekarang”
“Akankah ada pengerahan rakyat?”
“Ya, ya… sepertinya begitu!” sahut yang lain.
“Wah! Ini tidak baik. Kita harus segera menghadap Bapa!”
“Apa yang kau harap? Gereja pasti tak berbeda dengan istana raja!”
“Lalu bagaimana?”
“Entahlah!”

Di sudut lain. Beberapa pemuda justru tertarik membicarakan tindakan gila yang telah dilakukan oleh sang panglima musuh. Sebuah kisah heroik yang belum pernah ada di medan pertempuran manapun. Benarkah episode itu sedemikian dahsyat? Bahkan, kabarnya gunung karang ikut terperangah. Laut di Semenanjung Iberia terkesima. Dan langit si sepanjang Mediterania hanya bisa menatap syahdu, saat tujuh ribu pasukan yang mendengungkan kalimat Allah itu melabuh serentak diiring ombak. Bergelombang, menjejak pasir putih dari tanah yang dijanjikan.

Sesungguhnya, dalam hati kecil mereka, kedatangan pasukan musuh itu sangat dinanti-nanti. Hari itu juga, seluruh penghuni bumi Andalusia terbangun. Akhirnya pertolongan dari Tuhan datang juga! Setelah berpuluh tahun bangsa Visigoth menguras deras segenap luka dan air mata mereka. Usai kerontang jiwa merajam lara raga di bawah kaki Raja Roderick. Kini secercah harapan sedang bersinar dari arah semenanjung. Sekaranglah saatnya memupuk harapan atas sebuah pembebasan. Kejatuhan negeri mereka, Andalusia--bukan, tepatnya dinasti Gothic--sedang menghitung mundur.
“Gereja sudah tahu?”
“Apa bedanya?”
“Sekarang, mereka pasti sedang mengumpulkan emas dan harta mereka!”
“Apa yang harus kita lakukan?”
“Kita lihat saja nanti. Tuhan sedang bicara pada penggembalanya sekarang.”

Ya, mereka tahu Tuhan sendiri yang telah menuntun para penolong itu hingga ke negeri ini. Jubah dan surban putih yang berkibar, panji-panji kemenangan yang menghunjam langit. Baju besi serta tameng yang berdentingan. Juga berbagai senjata yang berkilat-kilat siap terhunus. Itu semua bagai lonceng kemenangan bagi orang-orang kecil seperti mereka. Bahkan matahari takjub terpesona. Menyaksikan gelombang takbir yang perlahan-lahan menepi. Dan musuh di darat? Siapa sangka bantuan tiba dari arah samudera?
***
Beberapa hari usai pendaratan yang heroik di pantai semenanjung Andalusia. Kumpulan orang-orang di tengah kota menampakkan wajah ceria. Mereka saling mengabarkan sebuah berita gembira.

“Raja sudah mati!”
“Apa katamu?”
“Raja,… Raja Roderick mati!”
“Dimana?”
“Di medan pertempuran Bakkah”
“Lalu?”
“Cordoba, Malaga,dan Granada juga jatuh! Toledo pasti menyusul!”
“Jadi?”
“Kita menyerah!”
“Kita menyerah?”
“Kita menyerah!”
“Puji Tuhan! Oh, betapa senangnya, akhirnya mereka menyelamatkan kita!”
***

Dari atas kudanya, wajah sang panglima tersungkur ke bumi. Lafaz takbir dan tahmid terus berdesis dari lisannya. Hari ini, mimpinya telah terbukti nyata. Sebuah mimpi yang makin membuatnya teguh dengan jihadnya di tanah Andalus ini. Ya… malam itu lewat mimpinya, Rasul yang agung bersama empat sahabat telah menemuinya. Di atas permukaan samudera yang berkilat-kilat, manusia-manusia agung itu menghampirinya. Beliau tersenyum seraya membisikkan berita gembira yang bakal ia raih. Tentang gerbang Andalusia yang akan terbuka lewat tangannya. Tentang sebuah peradaban benderang yang hendak menerangi seluruh Eropa dari kegelapan. Juga kegemilangan Islam yang hendak diukir dari tanah Andalusia ini. Beliau hanya berpesan, agar selalu menepati janji dan teguh bersama orang-orang yang beriman. Sebab atas kuasa Tuhannya pula, telah dimudahkan ia untuk menyeberangi selat, membakar semangat juang pasukan, sekaligus menaklukkan kota demi kota di salah satu wilayah kekaisaran Romawi saat itu. Dan di atas hamparan kertas, dibacanya sekali lagi sebuah pesan yang usai ia tulis bagi pemimpinnya di negeri seberang :

“Hari ini, saya sampaikan bahwa saya telah menjalankan perintah Anda. Dan Allah telah memudahkan kami untuk memasuki Andalusia.”
Tertanda,
Thariq Bin Ziyad’
***
Surabaya, Agustus 2004

Share this article :

No comments:

Popular Posts

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Selamat Datang - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger